Selamat datang di Kawasan Penyair Jawa Timur Terima kasih atas kunjungan Anda

Senin, 15 Oktober 2007

Vddy Ad Daery


Viddy Ad Daery
(Lamongan)

Lahir di Desa Laren, Lamongan 28 Desember 1961 dengan nama Drs. Anuf Chaviddi. Menulis puisi sejak di SMA N IV Malang. Tapi ngetop sejak menulis puisi “Surabaya Mari Berbicara Empat Mata” sewaktu mahasiswa tingkat I FISIP Unair Surabaya. Puisinya itu mendapat penghargaan dari Festival Puisi (1981), lalu dipakai sebagai puisi wajib final Lomba Deklamasi DKS (1982), dan dibikin videoklip oleh TVRI Surabaya dua kali,dan sejak tahun 1983 dijadikan puisi wajib pada upacara HUT di Kantor Walikota Surabaya pada zaman Walikota Dr.Purnomo Kasidi. Kini bekerja sebagai konsultan pada production hous IFCARD Jakarta dan membina jaringan kursus televise di Surabaya dan Jatim. Disamping itu, hampir setahun sekali, diundang menjadi pembicara pada pertemuan budaya di Negara-negara Asia Tenggara dan Australia. Penyair ini juga aktif menulis kolom, puisi, cerpen, novel, naskah televise dan aktifis organisasi Komunitas Penyiaran Indonesia, Jakarta. Salah satu puisinya :

Laut Langkawi

Aku naik jetty dari Kuala Kedah
Nun di cakrawala, dipermainkan gelombang
Pulau Langkawi bagai kiambang

Laut membuncah, kapal-kapal nelayan berangkat
Bagai barisan armada Merong Mahawangsa

Berjajar pulau dan karang
Berlabuh satu dua perahu kumbar
Aku membayangkan zaman dulu
Perahu dagang dan perompak kejar-mengejar
Di manakah orang-orang Coromandel menukar tembikar ?
Di manakah armada besar Sri Wijaya menebar jangkar ?

Di ceruk mana mereka larung Putri Mahsuri ?
Di teluk mana perahu Mojopahit mencari Gunung Jerai ?

Belum habis tanya dan kenang
Telah tampak Dataran Tinggi Elang
Langkawi dijaganya, dengan sayap terkembang
Karena dia bangga, Langkawi tak lagi bernasib malang
Tak seperti negeriku
Tempat kami menyesal dilahirkan

Pulau Langkawi, seberang Kedah, Malaysia November 2000

Puput Amiranti N.


Puput Amiranti N.
(Surabaya)

Lahir di Jember, 24 April 1982. Mahasiswa Unair (S I) Jurusan Sastra Inggris. Dulu pernah aktif di teater kampus sebagai sutradara, tim musik, actor dan penulis naskah serta terlibat dalam beberapa forum diskusi sastra dan seni, selama 2001 hingga pertengahan 2005. Karya-karyanya berupa puisi pernah dimuat di : Surabaya News, Surabaya Post, Surya, Jawa Post, Media Indonesia, Aksara, Lampung Post, Pikiran Rakyat, Jurnal Perempuan Jurnal Dewan Kesenian Jawa Timur-Bende dan beberapa antologi puisi Permohonan Hijau (FSS 2003), Antologi Penyair Jawa (FSS 2004), Dian Sastro For President : Pesona Gemilang Musim dan antoligi sendiri Impian Bunuh Diri (Gapus,2004). Juga termuat di media online Indonesia Australia, AIAA News dan pernah dibacakan di radio Indonesia-Jerman, Deutsche-Welle (Jan,2004). Salah satu puisinya :

Menuju Bulan

I. malam merekam pucat bayangan
suara-suara ketakterhinggaan
timbul tenggelam, tubuhku menelikung
remuk
oleh keberadaan waktu
hanya mitos-mitos kelelawar

II. mungkin kita saling berciuman
di bawah bulan tak mengenal
tubuh kita perdu terbakar
cahaya-cahaya lalu lalang
menggambar bayangan sendiri
gedung-gedung ingatan pecah di arus matamu
penglihatan yang tak kita yakini

III. kita tak lagi hujan
kita tak lagi sunyi
selain merangkum kemarau bimbang
di patahan ranting, benak kita licin
lebih terjal dari impian bibir musim
sementara pantulan-pantulan gema
kita terbang
terbaring, seperti ular yang baru dijinakkan
tanpa gairah apa-apa
selain bukan keinginan tak berdosa

Surabaya, 2004

Suhairi


Suhairi
(Jember)

Lahir di Sumenep, Madura, alumnus Pondok Pesantren mambaul Ulum bata-bata, Pamekasan. Beberapa karyanya telah dipublikasikan di beberapa media; Jawa Pos (Deteksi), Harian Surya, Mimbar Pembangunan Agama, Radio Suara Jerman Deutche Welle, Radar Jember, Tabloit Orbit (Jember), Jember News dll. Salah satu puisinya dimuat dalam antologi bersama “Puisi Rakyat Merdeka” (Radio Nederland, Belanda, bekerja sama dengan PT. Grasindo; 2003). Juara I Putra Lomba Baca Puisi se-Universitas Jember (2004). Juara I Lomba Karya Tulis Mahasiswa se-Fakultas sastra Universitas jember (2005). Juara II Lomba Karya Tulis Mahasiswa se-Universitas Jember (2005). Pernah menjadi wartawan majalah Sastra Fadilah (Yogyakarta) dan Tabloit CAKRAWALA (Jember) Ketua Umum Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia rayon Fakultas Sastra (2005-2006). Ketua Umum Forum Lingkar Pena (FLP) Cabang Jember (2005-2007). Ia masih tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Jember semester IX. Salah satu puisinya :


Kuharap Ini Doa

Seperti kemarin,
Malam ini aku masih mengasah doa
pada lempeng nurani
yang semakin tipis dan habis
Aku ingin membunuh hitam dan kelam
biar langit membelah diri
menjadi lorong setiap doa
yang kutata dengan air mata

Tuhan!
Kata-kata yang telah kususun
bersama gelap
Kuharap bukan khayalan
tapi doa yang masih tertunda
sampai di terminal-MU!

S,Yoga


S. Yoga
(Ngawi)

Lahir di Purworejo Jawa Tengah, alumnus Jurusan Sosiologi FISIP Unair Surabaya. Kini bekerja sebagai Fasilitator Kecaatan untuk Program Pembangunan Kecamatan di Sumenep-Madura.Karya- karyanya dimuat antara lain : Jurnal Cerpen, Jurnal Puisi, Graffit Imaji-Antologi Cerpen YMS 2002, Para Penari-Lomba Cipta Cerpen Naional Kota Batu 2002, Sepuluh Besar Lomba Cipta Cerpen Naional Bali Post 2002, Dari Negeri Asing-Lomba Cipta Cerpen Forum Lingkar Pena 2002, Antologi Dari Zefri sampai Puncak Fujiyama - Lomba Cerpen Kreativitas Pemuda Diklnas & IICW 2002 Antologi Puisi Indonesia 1997, Gelak Esai & Ombak Sajak Anno 2001-Kompas, Amsal Sebuah Patung-Borobudur Awart 1997, Lampung kenangan : Lomba cipta Puisi Krakatau Awar 2002, Lomba Cipta Puisi Krakatau Awar 2004, Maha Duka Aceh : Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin 2005, Semi Finalis Poetry Com Agustus 2002, Lomba Cipta Cerpen dan Puisi KOPISISA 1998, Permohonan Hijau-Antologi Penyair Jawa Timur 2003, Dewan Bahasa Malaysia. Dan termuat di media massa lokal dannasional. Puisinya Shiluet Negeri Tropis pernah dibahas dan dibacakan di Radio Jerman. Filmnya : Ia yang Pergi dan Ia yang Kembali terpilih sebagai film terbaik.Naskah Drama :Rumah di Tubir Jurang terpilih lima naskah untuk dipentaskan dalam Festival Teater Remaja se-Jawa Timur 2005. Salah satu puisinya :

Joko Tole

aku lahir tanpa ayah dan ibu yang merumat
seolah anak jadah yang tak terhormat
menurut cerita tiba tiba aku lahir karena terjerat
sepasang kekasih yang bermesraan berat
dalam mimpi yang gawat

aku ingin sekali mencari
ayah dan ibu

aku datangi pasar pasar
terminal terminal, tambak tambak
sungai sungai, sampan sampan, ladang ladang
pedagang tembakau, petani garam, pandai besi
para nelayan dan bromocorah
tak seorang pun tahu
mereka hanya menjawab dengan
pandangan mata mendelik
dan menjauh dari bangkai hidup

para kyai dan para dukun
mengusahakan bahwa aku
lahir dari bumi dan berayah langit
di mana aku berdiri
di situlah aku dipangku ibu
di mana aku memandang
di situlah aku menatap ayah
maka aku memandang malam kelam
sebagai ayah sepanjang hayat

aku seberangi samudra dengan asin garam
aku bertanya kepada laut luas
di mana ayah ibuku
gelombang laut menjawab
kembalilah ke daratan
dan tancapkanlah sepotong kayu

buat kamu berteduh
lawanlah musuh musuh alam
agar kau mengerti kehidupan
di situlah kau akan bertemu ayah ibumu
yang sebenarnya
kebenaran akan terkuak
sehelai demi sehelai
kebaikan akan terpancar dari jiwamu
yang bijak dan pemberani
rahasia hidup akan terwujud
dari hati nurani yang abadi

di bawah pohon gayam aku bersamadi
dengan kelelawar merah menemani
bergantungan di rahang rahang pohon
berhari hari tubuhku seperti batu
lumut melumut habis ragaku
namun jiwaku semakin bersih
dari rasa dendam dan benci
kini pohon pohon tumbuh dalam jiwaku
buah buah merekah dan matang dalam jiwaku
binatang binatang berumah dalam jiwaku
lautan berdeburan dalam jiwaku
angin berembusan dalam jiwaku

namun perjalanan masih panjang
mencari ayah ibuku sendiri
ayah ibu yang melahirkanku
ayah ibu yang menciptakanku


*Legenda asyarakat Madura seorang tokoh pemberani yang konon
lahir dari sebuah mimpi Putri Koneng dan Adipuday

Sumenep, 2005

Indra Tjahyadi


Indra Tjahyadi
(Malang)

Lahir di Jakarta, 21 Juni 1974. Staf pengajar di Fakultas Sastra & Filsafat Universitas Panca Marga. Probolinggo. Alumnus Fakultas Sastra Universitas Airlangga Surabaya. Menulis esai, puisi dan cerpen. Juga aktif menterjemahkan karya-karya sastra berbahasa asing ke dalam bahasa Indonesia. Karya-karyanya, baik puisi, esai maupun cerpen, termuat antara lain :di AIAA News (Australia), Bahana (Brunei), Horison, Jurnal Cipta, Sastra, , Jurnal Puisi, Kompas, Koran Tempo, Republika, Suara Karya, Surabaya Post, Surabaya News, Jurnal LaminSastra, Jawa Pos, Bali Post, dan lain-lain.Juga di kumpulan puisi bersama, antara lain: Upacara Menjadi Tanah (1996), Adakah Hujan Lewat Di Situ (1996), Seribu Wajah Lilin (1997), Rumah Yang Kering (1997), Luka Waktu; Antologi Puisi Penyair Jawa Timur ’98 (1998), Penunggang Lembu Yang Ganjil (2000), Gelak Esai dan Ombak Sajak Anno 2001 (2001), Hijau Kelon & Puisi 2002 (2002), Manifesto Surealisme (2002), Permohonan Hijau (2003), Birahi Hujan (2004) dan Dian Sastro for President; End of Trilogy (2005). Tahun 1997, kumpulan puisinya Yang Berlari Sepanjang Gerimis memenangkan Juara I Lomba Cipta Puisi Kampus Nasional 1997. Ia salah satu pemenang Sayembara Penulisan Cerpen dan Puisi “Hadiah Tepak” yang diadakah oleh Majalah Sastra dan Budaya Dewan Kesenian Kabupaten Bengkalis. Puisi-puisinya juga pernah dibacakan di Radio Deutsche Welle. Ia pernah membacakan puisi-puisinya di Festival Seni Surabaya 2003 dan Pertemuan Sastrawan Nusantara ke XIII. Juga pernah membacakan sajak-sajaknya di TIM dalam acara Cakrawala Sastra Indonesia. Manuskrip kumpulan puisinya Di Bawah Nujum Kabut tercatat sebagai salah satu nominasi penghargaan KSI Award 2003. Beberapa puisinya dalam bahasa Inggris termuat di Big Lick Literary Review; a Multicultural Arts Ezine yang diterbitkan di Roanoke, Virginia-USA dan Conestoga Literary Journal.Ekspedisi Waktu (2004) adalah buku kumpulan puisi tunggalnya yang sudah terbit. Salah satu puisinya :

Maut yang Meledak

Maut yang meledak bersigithik di dasar bayanganku.
Kelam yang terpejam dikulum dosa hantu-hantu.
Seperti riwayat pohonan tumbang
di sepanjang jalan menuju rumahmu,
mayatku yang pemberontak berpeti kabut, memanggili lindu.
Hujan demikian brutal, bergulingan di sepanjang tidurku.

Kemiskinanku yang memuja ajal merentangkan jembatan,
menghubungkan selangkang para pengemis dengan pilu.
Jenazah angin munting-rumpang, membelah diri di puncak unggun.
Menuju pulau-pulau yang dilepas cahaya,
karnaval belatung menggaungkan mendung kebisuanku.
Maling-maling bersiul—menenggak setiap tetesan arak air kencingku!

Segala asal-usul menggerogoti jejakku yang makin tua dan rabun.
Isyarat halimun tiba-tiba berbentuk perahu, melarungkan pilu.
Sayang, mataku mati rasa, keperihanku memutih melebihi salju!
Bunga-bunga kana yang hijau dalam gerhana mencercapi bangkaiku.

Tengkorakku pucat terkapar di taman-taman kota
tak berumput. Sebagai sebuah revolusi, kekosonganku meletus.
Sepanjang negri insomnia batu-batu, ode perselingkuhan
pelirku yang mengeras mengidap sifilis, bersibalas pantun
dengan peluru. Katakanlah betapa aku mencintaimu.
Di akhir setubuh, jasadku yang dirundung tenung. Aku
Neraka mengerang, kembali melupakan Tuhan, membiarkan
malam hidup sedu bersama gemuruh.

2002-2005

Muhammad Choirul Anam


Muhammad Choirul Anam
(Boyolali)


Lahir di Boyolali 6 Juni 1983. Karya-karyanya pernah dimuat di media massa lokal seperti Solo Pos, Bengawan Pos, Horison. Ikut dalam antologi bersama puisi dan cerpen berjudul “ Kisah Cinta Plastik “ dan Telah menghasilkan satu buah kumpulan puisi “ Aku Belajar Menulis Kepada Sepi dan Belati “. Sampai saat ini masih tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Sastra dan Seni Rupa, UNS. Salah satu puisinya :

Mengeja Malam Runtuh dan Kejatuhan Bintang

gununggunung malam runtuh
ketika bintang sedang menjaga kejatuhannya
kabut gelisah dengan warna hitam yang mengitari tubuhnya
sementara langit hanya bersedekap
menunggumatahari yang sebentar lagi akan naik di punggungnya

aku lupa memandang gelap
aku luput menghitung cahaya
sementara rekaat telah memburai menjadi neraka

ruang renung, mei4, 2005

Arbensjah Damayanto

Arbsjaynch Damayanto
(Dibaca Arbensjah Damayanto)
(Malang)

Lahir di Ampenan (lombok Barat)-NTB, 26 September 1963. Dalam berkesenian selalau memakai nama Bens Damayanto. Menulis secara otodidak, mulai menulis tahun 1983 masih aktif menulis sampai sekarang. Puisinya dimuat di beberapa media massa seperti : di Harian Surabaya Minggu, Harian Surya, Harian Sore Surabaya. Ia masuk finalis ( 10 besar ) dalam rangka Valentine Day yang diselenggarakan oleh Jawa Pos – Radar Malang, tahun 2004. Salah satu puisinya :

Sepotong Roti Pengganjal Mimpi

Kehangatan hari dan cericit burung, tak ada lagi di sini
terberangus sudah
belantara jelmakan hujan air mata
mendera mimpi kanak-kanakmu;

“Tak ada lagi mimpi itu nak, tak ada lagi, ia sudah pergi,
pergi bersama angkara yang tumbuh
di antara sulur-sulur mereka”

Embun masih menggayut
dibening kejora matamu
redup menghapuskan harapan
terserabut sudah

ini kali masih ada sepotong roti
sisa kemarin pagi
punguti, lumati sebagai pengganjal mimpi
lalu terbanglah tinggi
sampai ke langit
jumuti bintang-bintang itu
lalu sematkanlah di dalam hati;

Malang, 2004